FINE ARTS STUDY PROGRAM

PANDEMIC AESTHETIC

THE INTERNATIONAL VIRTUAL ART EXHIBITION


MARANATHA ARTSPACE

23 NOVEMBER –
23 DECEMBER 2020


TENTANG PAMERAN

Filsafat dan seni saat ini (atau mungkin dari dahulu) sangat memberi harapan bagi pemecahan semua misteri dan semua problematika di Dunia ini, itulah mengapa filsuf dan seniman memiliki pola pikir yang unik, sehingga disinyalir akan memberikan harapan yang cerah di masa depan dengan penemuan-penemuan paradigmatiknya, meskipun seniman mengejawantahkannya dengan bentuk yang berbeda dengan filsuf, yakni lebih mengandalkan persepsi langsung dan intuisi, daripada argument rasional. Namun keduanya mampu mencerahkan manusia melalui karya-karyanya.   Seniman dalam berkarya, tentunya memiliki tujuan yang penting, itulah bagaimana sulitnya mengejawantahkan gagasan dan rasa estetik dalam rangka upaya merespons zamannya, merespons pengalaman empiriknya, sehingga mewujud sebuah karya seni, tentunya, fungsi dasar karya seni bukanlah untuk membantu manusia dalam melakukan aktifitas fisik layaknya teknologi masinal dan digital, seni  juga tidak memberikan dampak langsung terhadap pola pikir ataupun kinerja otak seseorang yang melihatnya, seni  tidaklah berfungsi seperti  demikian, seorang pelukis ataupun pematung, tentunya  tidak  memiliki pemikiran kalau karyanya adalah berfungsi untuk menghias ruangan ataupun  dinding  rumah seseorang, rasa-rasanya  seni tidak serendah itu diperuntukkan, namun merupakan bentuk pengejawantahan gagasan dan pemikiran serius dari senimannya pada audiens demi merespons  kondisi  realitas-sosial pada zamannya.  Seni  memiliki keluhuran arti dan tentunya ketinggian  maknawi, bukan pada wilayah narasi ataupun  sisi visual semata, namun di wilayah proses kreasi dan presentasinya juga, mereka terakumulasi secara paripurna dan terintegrasi secara komprehensif, sulit untuk dipisah-pisahkan, seorang seniman yang berkarya dan karyanya hanya disimpan  dan  dinikmati sendiri, tentunya  akan  hilang  dan  melenceng dari kaidah berkesenian saat ini, seniman saat ini dituntut untuk merefleksikan kondisi paling ‘kiwari’ melalui  karyanya, baik secara visual maupun konseptual, tujuan intinya jelas untuk menyampaikan pesan, sulit rasanya bila seniman berkarya hanya sebatas mengerjakan artefak dalam rangka olah bentuk, warna, garis, dan tekstur semata, pastinya ada sisi nilai lain yang diusung selain mengaransemen unsur-unsur rupa itu, itulah makanya, ungkapan zaman modernism: “ars gracia artis” atau “Art for Art’s Sake”  masih sangat relevan sampai saat ini, tidak akan pernah mati, disadari ataupun tidak oleh senimannya, semangat avant-gard-isme akan tetap menyala demi progresifitas, karya seni merupakan bentuk fisik dari kecerdasan berpikir si senimannya, dan itulah bentuk  avangardisme yang kongkret.

Seniman dan filsuf memiliki kepekaan dan rasa yang sama dalam konteks estetika, bedanya adalah, filsuf mengejawantahkannya dalam bentuk pemikiran atau konsep berpikir, sementara seniman dalam reka olah bentuk dan visual, itulah kenapa ungkapan “seniman mampu menandai  zamannya”, adalah ungkapan yang tidak berlebihan

Seniman memiliki kepekaan khusus pada wilayah rasa estetik ketika merespons sesuatu, baik fenomena ataupun noumena yang dialaminya secara empirik maupun imajinatif.

Kondisi sosial saat ini dengan adanya Pandemi Covid-19, bagi seniman selain menggugah perasaannya untuk diekspresikan dalam bentuk karya seni, juga menggugah simpatisme dan empatismenya yang menitikberatkan pada kepedulian terhadap penderitaan sesame.

Perasaan humanisme dan katarsisme inilah yang menggugah seniman dalam menciptakan karya-karya di era pandemi Covid-19 ini. Bagi seniman, Pandemi ini harus disikapi dengan aksi-kreasi estetik, pandemik-estetik.


127 ARTIST
12 COUNTRIES
34 ART INSTITUTIONS


OPENING CEREMONY

Monday, 23 November 2020
10.00 AM – 12.00 PM
Zoom Meeting
ID : 987 8279 7457
PASSCODE : 967931


CONTACT PERSON

Shopia Himatul Alya
+62 857-5933-7319